Hari ke hari, menit ke menit, detik ke detik. Saga transfer Xabi Alonso semakin mendebarkan dan mencapai puncaknya. Real Madrid dan Liverpool menjadi penentu berakhirnya saga itu.
Musim lalu, El Real ibarat teka teki permainan puzzle yang dihamburkan kepingannya oleh Ramon Calderon. Kejayaan dua musim lalu bersama Bernd Schuster tak berulang musim lalu, karena rival bebuyutan Barcelona telah menunjukkan taringnya kembali. Madrid gagal total.
Kini, keping puzzle yang berserakan itu coba kembali dikumpulkan oleh Florentino Perez. Pengusaha konstruktor dan pengacara itu menghadirkan Neo Galacticos. Ricardo Kaka, Cristiano Ronaldo, Karim Benzema dan Raul Albiol jadi deretan bintang-bintang yang berpijar di langit Santiago Bernabeu.
Perez masih mencari kepingan puzzle terakhir. Kegagalan mendatangkan Franck Ribery dari Bayern Munich bisa ditutupi oleh mobilitas, determinasi dan kreativitas Kaka dan Ronaldo. Tapi, tidak untuk posisi gelandang sentral yang hanya menyisakan Lassana Diarra.
Los Merengues tak bisa lagi bergantung kepada veteran Jose Maria "Guti" Guiterrez Hernandez. Pun Si Argentino, Fernando Gago yang masih terlalu muda.
Keping puzzle terakhir Madrid yang hilang itu adalah Xabi Alonso. Pria Spanyol kepunyaan Liverpool yang juga spesialis laga-laga besar.
Dua laga krusial pasti terbayang di benak bolamania. Alonso menjadi dirijen Liverpool ketika menghancurkan Manchester United 4-1 di kandangnya di Liga Inggris (Premier League) musim lalu. Peran pria ini sebagai deep lying playmaker begitu dominan.
Bukan hanya di Liverpool, tapi juga di tim nasional Spanyol. Ingat, bagaimana La Furia Roja yang telah hancur mentalnya usai dipukul Amerika Serikat 2-0 di semifinal Piala Kondeferasi 2009.
Juara Eropa 2008 ini nyaris kembali dipermalukan oleh tim yang sebenarnya bukan selevel, Afrika Selatan di perebutan posisi 3. Set piece Alonso menebus malu sekaligus memenangkan Spanyol 3-2 di perpanjangan waktu atas tuan rumah.
Deep Lying Playmaker
Tak salah jika Alonso sangat diinginkan Manuel Pellegrini. Arsitek anyar Madrid mantan Villarreal asal Chile ini sangat mengenal Liga Spanyol (La Liga atau Primera Liga), juga Alonso saat masih berkostum Real Sociedad era 1999-2004.
Alonso bukan hanya gelandang bertahan. Tapi, ia juga bisa memainkan peran sebagai gelandang menyerang sama baiknya.
Itulah mengapa ia disebut deep lying playmaker. Figur yang bisa menurunkan dan menaikkan tempo permainan. Juga menghadirkan perbedaan dalam sebuah laga, bahkan penentu kemenangan.
Dalam usianya yang masih masuk kategori emas, 27 tahun, tak salah jika Madrid sangat berharap bisa mendapatkan Alonso. Dan saga transfer yang sempat berlangsung berbulan-bulan, diakhiri dengan 32 juta euro atau hampir Rp 454 miliar, plus insentif 3 juta euro.
Harga itu tak sebanding, karena kapasitas Alonso akan membayar itu semua. Formasi Madrid akan semakin lengkap.
Iker Casillas masih akan tetap nomor 1 berada di bawah mistar El Real. Komposisi belakang Madrid akan semakin bervariasi dan bisa dirotasi jika ingin berjya di La Liga, Liga Champions dan Copa del Rey.
Di sana ada Albiol, Alvaro Arbeloa, Pepe, Sergio Ramos, Marcelo, Christoph Metzelder serta Ezequiel Garay. Total Real punya tujuh bek siap pakai.
Di tengah, Pellegrini bisa bereksperimen dengan hadirnya Alonso. Baik dengan pola 4-2-3-1 dimana Alonso bermain sejajar dengan Ronaldo dan Kaka. Di belakangnya duet gelandang bertahan Gago dan Diarra.
Atau 4-1-2-1-2 ketika Ronaldo bermain ke depan berduet dengan Benzema atau Raul. Di sini, Kaka bermain sebagai second striker atau bermain bebas di belakang duet striker membentuk trisula penyerang.
Alonso dan Gago bergantian menjadi penyuplai bola kepada trisula itu. Duet ini bertugas menjaga ritme, menaikkan dan menurunkan tempo permainan. Tugas perebut bola diemban oleh Lass Diarra.
Dengan formasi ini, keseimbangan dan kesolidan permainan El Real akan terjaga. Ambisi untuk mengulang kejayaan Los Galacticos pantas diapungkan Madridista, fans Real.
Dan bersiaplah menikmati suguhan tontonan sepakbola indah aroma Latin ala Pellegrini. Bukan cuma indah, tapi juga menghasilkan kemenangan dan kejayaan.
Edwan Ruriansyah
Sports (Bola) Writer
Copyright @ VIVAnews.com