VIVAnews – Sulaeman, 43 tahun, sopir armada Big Bird, menceritakan kesaksiannya sebelum terjadi ledakan di Hotel JW Marriott, Jakarta Selatan, Jumat 17 Juli 2009, pukul 7.40.
Waktu itu dia tengah parkir kendaraan di jarak 200 meter dari hotel yang beberapa tahun lalu juga pernah dibom itu. Warga Tanah Kusir, Jakarta Pusat, ini tengah menjemput delapan orang Perancis.
Tiba-tiba terdengar suara berdebum keras dari arah Hotel JW Marriot. Nalurinya mengatakan harus mencari di mana ledakan itu terjadi. Dia lari ke arah hotel itu.
Tapi sekitar dua menit, tepat ketika dia melintas di depan Hotel Ritz Carlton, lagi-lagi ada ledakan. Ledakan kedua ini ternyata berasal dari lantai dua Hotel Ritz Carlton yaitu di Restoran Airlangga.
Sulaeman menyaksikan kaca-kaca pecah berantakan dan terlempar ke halaman hotel.
Tidak lama kemudian, dia melihat banyak orang berhamburan keluar dari kedua hotel kelas internasional itu.
Mereka yang lari ke luar hotel, kata Sulaeman, sebagian bersimbah darah. Umumnya adalah warga negara asing.
Setelah itu banyak warga berdatangan. Kemudian petugas keamanan merapat.
Sementara itu, delapan tamu yang akan dijemput Sulaeman belum diketahui nasibnya. “Sampai sekarang saya belum ketemu mereka,” kata Sulaeman.
Kedua ledakan itu mengakibatkan sembilan orang tewas dan puluhan lainnya luka-luka. Siang ini, petugas keamanan tengah melakukan olah tempat kejadian perkara.