VIVAnews - Pasca kasus Calciopoli pada 2006 silam, pamor Juventus seakan terbenam oleh kian akbarnya kekuatan roh Internazionale Milan. Kini, harapan untuk menjadi yang terbaik di Italia kembali bergelora.
Pergantian pelatih dan mendatangkan pemain berkelas seakan menjadi motivasi Si Nyonya Tua untuk bangkit. Claudio Ranieri dianggap gagal mengangkat nama besar klub pemegang rekor scudetto dengan 27 gelar ini.
Kini tongkat estafet dipegang legenda hidup Delle Alpi, Ciro Ferrara. Mantan bek Juventus ini diyakini akan mampu menjadi solusi setelah sebelumnya sukses di tim junior Juve. Tak hanya itu, pengalamannya sebagai pelatih teknik di timnas Italia saat menjadi kampiun Piala Dunia 2006 tentu jadi nilai plus buat Ferrara.
Di jajaran pemain, Juventus juga berbenah. Beberapa pemain macam Olof Mellberg, Domenico Criscito, Michele Paolucci, dan Albin Ekdal kini didepak dari Stadion Olimpico. Mereka dianggap tak mempunyai peran penting dalam skema Ferrara.
Sebagai gantinya, Juventus berhasil mendapatkan bintang Brasil Diego Ribas dari Werder Bremen dan membawa pulang Fabio Cannavaro dari Real Madrid plus Felipe Melo yang kini tinggal menunggu waktu. Pemain-pemain anyar ini akan bergabung dengan Alessandro Del Piero sebagai pemain kunci kebangkitan Juventus.
Beban berat tentunya disandang pemain-pemain anyar Juventus ini. Namun beban terberat tentu dipikul seorang Cannavaro. Cap sebagai 'The Traitor' atau pengkhianat membuat kehadirannya akan selalu menjadi pusat perhatian. Keputusan mendatangkan Canna memang sempat ditentang para tifosi Juventus.
Canna dianggap kejam karena meninggalkan Juventus di saat klub terpuruk kasus Calciopoli 2006 silam. Tak hanya itu, masa keemasan Cannavaro juga dianggap telah lewat.
Namun manajemen klub dan beberapa kawan lama Canna di Juve masih sangat percaya dengan kemampuan bek 35 tahun ini. Gianluigi Buffon yang paling vokal membela keputusan klub mendatangkan Canna.
Beban berat yang dipikul Canna pada pengabdian keduanya ini juga dibenarkan seorang jurnalis Italia Carlo Nesti. Bahkan Nesti mengklaim musim depan akan menjadi musim paling menderita buat seorang bek veteran bernama Cannavaro.
Namun Cannavaro juga bisa menjadi pemain yang paling bahagia. Catatannya, Juventus harus merontokkan hegemoni Inter musim depan.
Berbicara peluang, sebenarnya kans Juventus terbuka lebar. Dua pesaingnya, Inter dan AC Milan, tak banyak melakukan perubahan hingga saat ini. Bahkan AC Milan kini telah kehilangan ikonnya Ricardo Kaka.
Kehilangan Kaka tentu sama saja kehilangan nyawa permainan. Kubu Milan beralasan peremajaan kini menjadi pondasi klub di bawah rezim Leonardo.
Sedangkan jawara empat kali Serie A, Nerazzurri, juga tak banyak melakukan perubahan. Yang patut disimak, perekrutan Jose Mourinho kali ini dianggap tak mempunyai perbedaan yang signifikan dari pemain yang didepaknya.
Tengok saja Diego Milito yang didatangkan dari Genoa. Secara karakteristik striker Argentina ini tak jauh berbeda dengan Julio Cruz maupun Hernan Crespo. Sedangkan di lini kedua, Inter sebenarnya lebih membutuhkan seorang gelandang bertipe playmaker. Tapi justru Thiago Motta yang didatangkan.
Sebenarnya, permainan Motta juga tak jauh berbeda dengan Esteban Cambiasso ataupun Suley Muntari. Namun Mourinho rupanya sangat yakin jika Motta akan memberikan nuansa berbeda dalam skuadnya. Kejeniusan Mourinho akan kembali di uji musim depan.
Nah, kini tinggal menunggu apakah Cannavaro akan mempunyai musim yang indah atau bahkan sebaliknya. Kejeniusan Mourinho dan kematangan AC Milan akan menjadi batu ujian buat Juventus dan Cannavaro tentunya.
Toto Pribadi
Sports Writer
toto.pribadi@vivanews.com