VIVAnews - Chelsea mengajukan banding pada Federasi Sepakbola Eropa (UEFA) karena merasa dikenai sanksi yang tidak adil. Yaitu berupa denda sebesar 100 ribu Euro atau setara dengan Rp 1,4 miliar.
Menurut UEFA, Chelsea gagal mengontrol pemain dan fansnya ketika pertandingan semifinal Liga Champions melawan Barcelona pada 6 Mei 2009 lalu. Pemain The Blues menghina wasit, sedangkan para fans melemparkan berbagai benda ke lapangan sesaat setelah pertandingan berakhir.
Namun The Blues merasa denda itu tidaklah diperlukan. Apalagi pihak mereka sudah menyatakan permintaan maaf atas insiden yang terjadi di babak empat besar Liga Champions itu.
"Kami yakin kalau hukuman ini tidak dibutuhkan dan terlalu keras. Kami sadar kalau pemain dan klub punya kewajiban memberi contoh baik sebagai wujud panutan yang baik termasuk menjunjung nilai-nilai pertandingan," ujar juru bicara Chelsea seperti dilansir Shanghai Daily, Selasa 30 Juni 2009.
"Karena itulah kaai sudah mengahturkan maaf yang jujur dan tulus sehabis insiden berlangsung," tambahnya.
Sanksi ini merupakan hukuman kedua yang diterima The Blues menyangkut insiden itu. Sebelumnya striker Didier Drogba sudah dijatuhi hukuman tak boleh turun di enam pertandingan.
Drogba dianggap tak menghargai wasit Tom Henning Ovrebo karena menghinanya dengan kata-kata kotor. Drogba bahkan memaki sang pengadil asal Norwegia itu di depan kamera TV .
Insiden ini sendiri bermula ketika Chelsea kecolongan gol Andres Iniesta di menit akhir pertandingan. Gol itu membuat agregat menjadi 1-1 dan membuat Chelsea gagal melaju ke babak final.
Kubu Chelsea menilai kalau skor itu harusnya bisa saja berubah andaikan di menit akhir pertandingan mereka mendapat penalti karena salah satu pemainnya terganjar. Hal ini ditambah gagal lolos ke final, membuat pemain The Blues menyeruak ke arah wasit selepas pertandingan untuk protes.
Sayangnya keputusan tak bisa lagi diubah dan The Blues kini malah harus menghadapi dua sanksi berat sekaligus.