VIVAnews - Federasi Sepakbola Dunia, FIFA, tengah menekan panitia Piala Konfederasi yang berlangsung di Afrika Selatan pada 14-28 Juni 2009 ini. Apa pasal?
Stadion yang jadi venue pertandingan dinilai terlalu sepi dari penonton. Salah satu faktor yang mendorong kejadian ini adalah harga tiket yang terlalu mahal.
Satu tiket dipatok seharga 70 Rand atau setara dengan sembilan dollar AS (Rp 91 ribu). Padahal pendapatan 43% masyarakat di negara paling selatan di benua Afrika itu hanya dua dollar per harinya.
"Kami sangat fokus bekerjasama dengan panitia lokal untuk mengundang orang datang dan membeli tiket pertandingan. Karena ini adalah turnamen penting dalam kalendar sepakbola," kata juru bicara FIFA, Nicolas Maingot, seperti dilansir Soccerway.
"Pertama kalinya dalam sejarah Piala Konfederasi, Anda akan melihat tiga tim peringkat lima besar FIFA sekaligus. Sekarang kami hanya bisa membujuk orang untuk membeli tiket dan menonton pertandingan," tambahnya.
Komentar ini dikeluarkan setelah pertandingan antara Spanyol kontra Selandia Baru di Rustenburg. Dalam laga antara juara Eropa dan wakil Ocenia itu hanya 21 ribu-an penonton yang hadir.
Padahal kapasitas stadion Royal Bafokeng mencapai 42 ribu.
Namun, angka ini pasti akan melonjak tiap kali tuan rumah Afsel yang berlaga. Tengok saja data jumlah penonton di pertandingan pembuka antara Afsel kontra Irak pada 14 Juni lalu.
Meski berakhir imbang 0-0, penonton membludak sebanyak 48 ribu lebih. Dua kali jumlah pertandingan Spanyol ataupun lima kali juara dunia, Brasil.