VIVAnews - Sebenarnya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tidak ingin memihak salah satu tim yang akan bertanding dalam final Liga Champions dini hari nanti. Karena, SBY merasa tidak enak dengan duta besar Inggris dan Spanyol.
Presiden SBY punya pengamatan sendiri soal laga akbar malam ini. SBY akhirnya tak mau ketinggalan dengan calon presiden lainnya, Jusuf Kalla, dan suami dari calon presiden Megawati Soekarnoputri, Taufiq Kiemas.
"Karena kesibukan saya, saya memang tidak terus mengikuti perkembangan bola. Tapi, kedua tim antara Manchester United dan Barcelona sama-sama tangguh. Tidak mudah untuk mengatakan siapa yang menang," kata Presiden SBY usai rapat terbatas di Istana Negara, Jakarta Pusat, Rabu, 27 Mei 2009.
Jadi, lanjut SBY, baik tim Setan Merah, MU, dan Azulgrana, Barcelona, sama-sama memiliki peluang yang cukup besar. Awalnya, SBY bersikukuh tak ingin memberi bocoran untuk mendukung tim mana yang akan menjadi juara.
"Ngga enak, nanti ada duta besar Inggris sama duta besar Spanyol. Keduanya, sama-sama tim berkualitas dan profesional. Insya Allah nanti saya akan nonton," ujar SBY.
Rupanya, SBY punya prediksi sendiri. "Di atas kertas, MU. Oleh karena penampilannya selalu prima. Tapi, apakah itu bisa dibuktikan dalam final sekarang," kata sang calon presiden. Bagaimana dengan tebak skor Pak Presiden? "Nanti tidak enak sama Duta Besar Spanyol dan Inggris," ujar Presiden.
Sebelumnya, dukungan dalam final Liga Champions datang bertub-tubi untuk tim MU. Tiga pejabat yang mendukung MU yakni, Menteri Keuangan, Sri Mulyani, juru bicara Kepresidenan, Andi Mallarangeng, dan Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat, Aburizal Bakri.
Dukungan terakhir untuk MU datang dari Wakil Presiden, Jusuf Kalla. "MU itu lebih cepat, lebih mampu lah," kata Jusuf Kalla di Istana Wakil Presiden, Jalan Merdeka Selatan, Jakarta.
Begitu juga dengan Taufiq Kiemas. "Saya pegang MU karena bajunya merah. Karena, merah itu PDIP," kata Taufiq Kiemas di kediaman pribadinya.