VIVAnews - Persebaya Surabaya resmi mengajukan keberatan atas skorsing yang diberikan PSSI. Green Force mengajukan Peninjauan Kembali (PK) dan Banding.
Pengacara Persebaya, M Soleh dan Humas Surahman mendatangi Kantor PSSI, Senayan Jakarta, Senin siang, 8 Februari 2010. "Kami menyesalkan PSSI yang mengeluarkan Surat Keputusan (SK) tiga kali berbeda-beda," sebut M Soleh.
PSSI lewat Komisi Disiplin (Komdis) mengeluarkan SK nomor 30 pada 21 Januari 2010 yang isinya Persebaya harus menggelar sekali laga kandang tanpa penonton. Persebaya juga diharuskan membayar kerugian Rp 5 juta karena pecahnya kaca kendaraan Arema Indonesia saat dijamu di Gelora 10 Nopember.
Komdis kembali mengeluarkan SK nomor 31 pada 28 Januari 2010. Persebaya harus menggelar laga kontra Sriwijaya FC, Rabu 10 Februari 2010, tanpa penonton di Malang.
"Atas SK ini, kami minta PSSI melakukan PK," lanjut Soleh.
Krisis Finansial
Laga tanpa penonton itulah yang membuat Persebaya meminta PSSI melakukan PK. Pasalnya, itu akan merugikan Persebaya. Menurut Humas Surahman, kubu Green Force akan menderita kerugian 300-400 juta. Padahal, Persebaya sedang dilanda problem finansial.
Persebaya juga dikenakan denda Rp 250 juta buntut kerusuhan suporter bonek sepanjang jalan menuju kandang Persib Bandung. Plus ganti rugi Rp 50 juta kepada Panitia Pelaksana Persib bandung. Bonek juga dilarang aktif sampai 2014.
Padahal, Persebaya belum memiliki kelompok suporter resmi. Dan itu di luar kendali manajemen Green Force. Inilah yang mendorong Persebaya melakukan banding.
"Banyak suporter datang dengan spontanitas, kami tidak pernah menganjurkan. Bonek datang ke Persib karena ikatan persaudaraan," lanjut Soleh.
"Suporter saat di Solo dilempar terlebih dahulu. Kami berharap PSSI lebih jeli, bukannya menekan kami dengan hukuman berlapis. Tapi, juga memberikan bikin solusi," tutupnya.
Persebaya akan menunggu respon PSSI sampai besok, Selasa 9 Februari 2010.
09/02/2010