VIVAnews - Ketua Yayasan Suporter Surabaya (YSS), Wastomi Suheri belum bersedia menanggapi sanksi yang baru saja dijatuhkan Komdis PSSI kepada bonek alias bondo nekat. Namun dia menilai lembaga peradilan sepakbola nasional itu terlalu terburu-buru dalam membuat keputusan.
"Saya baru mendapat kabar dari media saja soal sanksi yang dijatuhkan kepada Bonek. Saya belum bisa menanggapinya karena belum lihat SK nya," kata Wastomi saat dihubungi VIVAnews, Jumat, 29 Januari 2010.
"Saya harus tahu dulu alasan Komdis PSSI dalam menjatuhkan hukuman. Kalau memang sesuai dengan yang dilakukan bonek, kami tidak akan keberatan," katanya.
Bonek baru saja dilarang untuk mendampingi Persebaya saat tandang hingga 2014. Sanksi ini dijatuhkan karena Bonek yang dalam status terhukum nekat mendampingi Bajul Ijo saat bertandang ke kandang Persib, 24 Januari 2010.
Saat perjalanan berangkat dan pulang dari Bandung, Bonek terlibat aksi lempar batu dengan warga Solo. Sebagian juga terlibat dengan aksi penjarahan dan penyerangan terhadap wartawan serta pihak kepolisian.
Meski belum bersedia mengomentari soal sanksi, Wastomi menilai kerja Komdis PSSI terlalu terburu-buru. Pasalnya, tim Investigasi
yang dibentuk oleh PSSI untuk mengusut aksi bonek tersebut belum mulai menjalankan tugasnya.
"PSSI kan telah membentuk tim investigasi. Namun hasilnya belum ada, Komdis sudah menjatuhkan hukuman. Harusnya Komdis jangan emosional dalam menjatuhkan hukuman," pungkasnya.
YSS merupakan salah satu wadah perhimpunan suporter Persebaya. Menurut Wastomi, organisasi yang sudah memiliki 6000 anggota ini didirikan untuk memperbaiki citra dan perilaku bonek selama mendukung Persebaya.
02/11/2010