VIVAnews - Persitara Jakarta Utara membuktikan janjinya meraih tiga poin di laga kandang. Laskar Si Pitung sukses miaenekuk Pelita Jaya 1-0 dalam lanjutan Liga Super Indonesia (ISL) 2009/2010 di Stadion Soemantri Brodjonegoro, Kuningan Jakarta, Sabtu 16 Januari 2010.
Lagi-lagi sang kapten Prince Kabir Bello menjadi penentu. Gol semata wayangnya di menit 9 membuat Persitara dipastikan meraih poin absolut.
Poin itu juga membuat Persitara menjauhi posisi juru kunci. Sedangkan bagi Pelita, tim asuhan Fandi Ahmad itu harus rela kembali menjadi juru kunci klasemen.
“Ini modal kami untuk derby melawan Persija Jakarta pada Rabu (20 Januari 2010),” ujar Manajer Persitara, Hary Ruswanto.
Selain momentum bangkit untuk menghadapi derby Jakarta, pihaknya juga ingin segera bangkit dari zona merah degradasi. Kata Hary, di sisa empat pertandingan pada putaran I timnya diharapkan mampu meraih poin absolut.
“Karena kami ingin segera mendapatkan kepastian investor, tim ini butuh dukungan investor juga. Ada tiga investor yang mendekat, dengan catatan kami segera bisa beranjak dari zona degradasi,” kata pria bertubuh tambun itu.
Jajaran manajemen tim dan pelatih Persitara memang saat ini terpusat kepada Derby Jakarta. Selain gengsi, melawan tim Persija Jakarta juga sebuah pertandingan pengakuan siapa pemilik Jakarta sebenarnya.
“Yang terpenting bagi kami adalah mental pemain bisa semakin baik. Itu manfaatnya sangat bagus untuk empat pertandingan sisa,” ujarnya.
Perubahan Strategi
Secara teknis, menurut Asisten Pelatih Persitara, Dodi Sahetapy, kemenangan ini tidak lepas dari keputusan jajaran pelatih memainkan Ahmad Marzuki di posisi gelandang. Pemain bertubuh Kurus itu mampu mengontrol dan mengendalikan bola, bahkan bisa berperan sebagai playmaker. Zuki awalnya biasa ditempatkan sebagai wing bek kiri.
“Kami senang karena dia bisa melewati satu hingga empat pemain. Dia membuat peluang di lini depan semakin terbuka,” kata mantan pemain Persija Jakarta itu.
Pelita, masih kata Dody, sempat membuat timnya keteteran. “Pelita kuat dalam menyerang dari sisi sayap. Jujur saja kami keteteran dengan cara mereka bermain diagonal. Untung saja, pemain kami bisa bermain disiplin,” jelas pria yang biasa disapa Dosah itu.
Usai pertandingan, Pelita kecewa dengan kepemimpinan wasit Setyono asal Sidoarjo. Bahkan, pihak Pelita tidak mau datang ke jumpa pers.
Padahal sesuai Manual Liga, jumpa pers merupakan acara yang harus dihadiri oleh manajer, pelatih bahkan kapten tim di setiap pertandingan profesional Liga Super.
“Tidak ada gunanya, percuma. Buat apa bicara kalau wasitnya tidak tegas. Sudah, sudah, saya belum mau komentar soal pertandingan ini,” bilang Pelatih Pelita, Fandi Ahmad dengan kesal, yang juga diamini asistennya Arjuna Rinaldi.
Laporan: Artha Tidar/GOSport