Guyuran dana 200 juta poundsterling (Rp 1,3 triliun) dari Sheikh Mansour kepada Manchester City tampaknya tak sia-sia. Setidaknya, City menjadi salah satu kekuatan yang diperhitungkan di Liga Inggris (Premier League) musim ini.
Man-City menjadi kuda hitam yang menyelip di antara dua kuda pacu English Premier League (EPL) atau juga dikenal Barclay Premier League (BPL): juara bertahan Manchester United dan Chelsea.
Itu sebanding dengan penampilan The Citizens belakangan ini. Mereka potensial menjadi batu sandungan buat klub-klub Big Four.
Tim asuhan Mark Hughes itu memang sempat menuai hasil minor akibat hasil seri tujuh kali beruntun di Premier League. Tapi, pekan perdana Desember 2009 seolah menjadi kebangkitan Royal Blues.
Emmanuel Adebayor cs menaklukkan dua anggota big four: Arsenal dan Chelsea. Arsenal dibekap 3-0 di ajang Piala Liga Inggris (Piala Carling), Rabu 2 Desember 2009. Chelsea yang masih memimpin klasemen Premier League juga ditaklukkan 2-1, Sabtu 5 Desember 2009.
Hebatnya, City menang lawan Chelsea setelah tertinggal lebih dahulu oleh gol bunuh diri Emmanuel Sheyi Adebayor. Tapi, Sheyi cs menunjukkan mental juara lewat golnya dan eksekusi set piece brilian Carlos 'Carlitos' Tevez.
Bayangkan, Chelsea telah menaklukkan tiga anggota big four: Liverpool 2-0, Manchester United 1-0 dan Arsenal 3-0. Chelsea dan MU juga telah kalah tiga kali musim ini.
Sedangkan City baru sekali kalah di Premier League musim ini dari MU 3-4. Ini bisa mengindikasikan sejauh mana kehebatan The Citizens.
Fans The Citizens, mungkin yang dipelopori oleh vokalis Oasis: Noel Gallagher, pantas berteriak lantang. "Kini, ada Manchester lain di Premier League!"
Kota Manchester kini bukan hanya milik Manchester United. Tapi, juga Manchester City.
Ya, selama ini sepertinya hanya ada Manchester Merah (baca: Manchester United) yang lebih dikenal di tataran liga sepakbola paling beken di dunia itu. Tak lain karena perbandingan prestasi antara Manchester Merah dan Manchester Biru Langit bak bumi dan langit.
Man-United mendominasi pentas Premier League sejak musim 1992/1993 dengan torehan 11 trofi dari total 18 trofi Liga Inggris. Sedangkan Man-City hanya mengoleksi gelar Divisi I pada musim 1936/1937 dan 1967/1968.
Revolusi Dirham
Akibat campur tangan taipan Timur Tengah itu sejak 2008, City kini menjadi salah satu klub raksasa di Inggris, bahkan juga Eropa. Seperti juga ketika Chelsea diakusisi taipan Rusia, Roman Abramovich pada 2003.
Mungkin benar jika Man-City kini bak Chelsea, lima tahun lalu. Tapi, Revolusi Dirham akan membuat perubahan di City of Manchester Stadium bergeser lebih cepat.
Atau minimal City akan menjejaki Chelsea jika dikelola dengan tepat. The Blues bisa menjadi juara Premier League pada musim 2004/2005 dan 2005/2006 di era Jose Mourinho. Artinya, musim depan saatnya Royal Blues mengikuti jejak The Blues.
Apalagi, Sheikh Mansour masih royal di bursa transfer. Bukan hanya pemain, Mark Hughes bisa diganti jika Sang Bos ingin meraup sukses d Premier League.
Kabarnya, Guus Hiddink akan didatangkan. Sentuhan tangan dingin Meneer Hiddink diharapkan bisa memoles Nigel de Jong cs menjadi kekuatan mapan sekaligus pendobrak dominasi The Big Four.
Sayangnya, ikatan Hiddink dan Abramovich bisa menjadi penghalang. Roman tak ingin pelatih kesayangannya itu memoles tim rival. Justru Hiddink akan diduetkan dengan Carlo Ancelotti di Stamford Bridge.
Musim ini jadi evaluasi terhadap kinerja Hughes. Jika sukses mendobrak dominasi Big Four alias masuk zona Liga Champions, posisi Hughes akan aman.
Jika tidak, ambisi mendatangkan pelatih hebat ke City of Manchester Stadium tampaknya tak terbendung lagi. Demi ambisi besar didukung finansial tak terbatas, Sheikh Mansour tampaknya masih bisa melakukan segalanya.
Edwan Ruriansyah
Sports & Bola Editor
Copyrights @ VIVAnews
• VIVAbola