VIVAnews - Argentina tak pernah henti melahirkan talenta sepakbola luar biasa. Setelah Diego Maradona, Mario Kempes, Gabriel Batistuta, kini Diego Milito mencuat dengan gol-golnya di Liga Italia.
Milito lahir 29 tahun lalu di kota Bernal, Argentina. Bakat jawaranya sudah terasah ketika baru berusia 20 tahun.
Ia mampu menggondol juara Apertura bersama Racing Club. Tak kurang 34 gol ia persembahkan dalam 137 penampilan bersama klub Divisi 1 Argentina itu.
Di saat nyaris bersamaan, sang adik, Gabriel Milito (kini di Barcelona), justru tampil buat rival Racing, Independiente. Uniknya, kakak-beradik ini kini menjadi tulang punggung Timnas Tango, Argentina. Diego di lini depan, dan Gabriel di lini belakang.
Pindah ke Genoa, Italia, pada 2004 merupakan keputusan paling tepat yang pernah ia buat. Sayang kontribusinya selama satu musim gagal menyelamatkan Genoa dari hukuman degradasi akibat skandal pengaturan skor.
Genoa harus turun kasta ke Serie C1, sebuah tragedi yang membuat Milito pindah ke Spanyol bersama Real Zaragoza.
Namun, pindah paksa ini tak mencegah Milito untuk terus menampilkan yang terbaik. Terbukti, bersama Zaragoza ia mampu tampil sebagai tulang punggung tim, bahkan memegang ban kapten.
Musim 2006-2007, ia masuk daftar Top Skorer La Liga dengan 23 gol. Lebih sedikit dua gol dari Ruud Van Nistelrooy, yang akhirnya keluar sebagai el pichichi musim itu.
Kebahagiaan terbesar kakak Gabriel Milito itu akhirnya tiba musim 2008-2009 ini. Ia kembali dibeli I Rossoblu di detik akhir transfer window paruh 1. Kedatangannya disambut bak pahlawan oleh tifosi Genoa.
"Ini adalah kota saya. Saya pulang kembali. Saya merasa sangat senang, dan keluarga juga bahagia saya bisa kembali ke sini. Saya berjanji akan melakukan yang terbaik," ujar Milito seperti dilansir channel4.
Mood baik kembali pulang kandang berpengaruh pada penampilannya di atas lapangan. Milito jadi momok menakutkan di depan gawang. Serie A yang terkenal dengan permainan bertahan, dibombardir terjangan gol pemain bertinggi 179 cm itu.
Hingga giornata 12, Milito sudah mencetak 10 gol. Ia mengalahkan nama beken Kaka (AC Milan) ataupun Zlatan Ibrahimovic (Inter Milan) dalam daftar capocannonieri Serie A.
Gol-gol itu membawa Genoa nangkring di jajaran elit Serie A. Bahkan, Genoa tak terkalahkan dalam enam laga sepanjang Oktober-awal November 2008. Hasil yang ditoreh Genoa melebihi Fiorentina, klub yang notabene berpengeluaran paling besar di transfer window 1 lalu.
Diincar Madrid
Kegemilangan Milito membuatnya dilirik Real Madrid yang kehilangan bomber Ruud van Nistelrooy sampai akhir musim. Milito dianggap paling tepat karena pernah mengecap pengalaman di Spanyol.
Kegundahan tifosi Genoa diredam Presiden Enrico Preziosi. "Madrid, lupakan Milito. Cari striker lain," imbau Preziosi beberapa waktu lalu.
Ya, Milito ibarat anak hilang yang sudah kembali ke pelukan sang ibu. Rasa nyaman dan kecintaan mendorongnya untuk berbuat terbaik demi menyenangkan perasaan bunda.
Sebuah modal yang terbilang kecil, tapi cukup menghadirkan keterikatan antara klub dengan sang pemain.
Milito membuktikan kalau uang bukanlah segalanya bila rasa cinta sudah tertanam. Dan bila ada yang berani meremehkan kekuatan cinta, Anda harus berhadapan dengan Milito dan tifosi Genoa.