VIVAnews - Permainan di Liga Super Indonesia (ISL) 2009/2010 menjurus lebih keras. Label sebagai ‘tukang jagal’ pantas disematkan kepada Sriwijaya FC dan Persib Bandung.
Laskar Wong Kito dan Maung Bandung bermain sangat keras di awal ISL ini. Ini ditunjukkan dari rata-rata perolehan kartu, yakni dua kartu kuning dan 0,5 kartu merah tiap pertandingan.
Status pemain paling bermasalah sementara ini menjadi milik defender Persisam Samarinda, Muhamad Roby dengan tiga kartu kuning dan satu kartu merah. Peringatan juga diberikan kepada gelandang Sriwijaya FC, Arif Suyono dan gelandang Persib Bandung, Hariono, karena masing–masing mengoleksi dua kartu kuning, juga satu kartu merah.
“Belum diketahui secara pasti penyebab banyaknya kartu yang muncul. Bisa saja itu karena kerasnya pertandingan atau perilaku buruk pemain yang selalu berulang,” kata CEO PT Liga Indonesia, Joko Driyono.
Menjurus Keras
Dari 30 pertandingan, wasit sudah mengeluarkan 90 kartu kuning dan tiga kartu merah. Direktur Teknik Persija Jakarta, Benny Dollo mengungkapkan, pemain wajib mengubah perilaku saat bertanding.
“Aturan pertandingan harus dipahami pemain. Mereka sekarang harus membiasakan tidak melakukan tackling terhadap lawan dari belakang. Perilaku seperti itu sering muncul. Kalau dahulu perilaku seperti itu memang biasa, tapi
tidak sekarang. Apalagi, itu bisa menjadi pemicu kerusuhan,” ungkap Bendol.
Rata-rata pelanggaran yang muncul di ISL bisa dikatakan meningkat dari musim lalu, meski tidak signifikan. Tahun pertama ISL hanya menghasilkan 270 kartu kuning dan tujuh kartu merah saat klub memainkan laga 10 kali.
Bisa diasumsikan terjadi kenaikan angka pelanggaran sebanyak 0,3 kali serta 0,03 untuk perilaku pemain yang bersifat fatal. Bendol menambahkan, pelatih wajib mengingatkan pemain agar tidak bersikap kasar di lapangan.
“Peran pelatih untuk selalu mengingatkan pemain sangat diperlukan. Siapa pun tahu, tekanan pertandingan sangat kuat dan itu sedikit banyak memengaruhi emosi pemain. Setiap perilaku tidak baik harus mendapat hukuman yang setimpal. Makanya cukup bijak bila ada klub yang mengharuskan pemain membayar denda itu. Tujuannya, agar pemain selalu berhati-hati,” lanjut Bendol.
Laporan: Artha Tidar/GOSport